executive outbound malang

Tahun 1994, salah seorang sahabat saya, sebut saja si S menjabat sebagai General Manager pada sebuah perusahaan asing yang bergerak di bidang radio panggil nasional. Suatu hari ada seorang pelanggan yang memliki posisi dangat penting di Medan, dan bekerja di suatu lembaga keamanan nasional.

 

 

Dia merasa kecewa dan sangat marah sekali kepada perusahaan radio panggil tersebut karena sebuah rahasia pribadi telah dibocorkan secara tidak sengaja oleh salah seorang operator radio panggil.

 

 

Pelanggan tersebut menuntut dengan memberi dua alternatif kepada perusahaan, yaitu menutup kantor radio panggil tersebut atau memecat si operator yang bermasalah itu. Kepala cabang wilayah Medan tidak bisa menangani hal tersebut, karena sangat keras dan seriusnya ancaman tersebut.

 

Kemudian si kepala cabang menghubungi si S yang sedang di kantor Pusat di Jakarta. Si S segera terbang ke Medan saat itu juga atas perintah Presiden Komisaris. Si S harus mempertimbangkan tiga faktor saat itu, secara bersamaan.

 

 

Pertama, dia harus menyelamatkan perusahaan. Kedua, dia harus mampu memenangkan sang pelanggan. Dan ketiga, dia juga memperhatikan masa depan di operator bermasalah itu.

 

 

Keputusan yang diambil si S adalah, si operator harus menjelaskan permasalahan ini kepada sang pelanggan sekaligus meminta maaf.

 

Kemudian karena kesalahan dan kelalaian si operator maka S meminta agar dia mengundurkan diri, dan di S mengeluarkan surat pemberhentian yang ditandatangani oleh operator itu dan dirinya sendiri selaku General Manager.

 

Kemudian S memberikan kesempatan kepada si operator untuk bekerja kembali pada perusahaan, dengan syarat dia menemui dan meminta maaf kepada si pelanggan, dan harus mendapatkan tanda tangan dari sang pelanggan.

executive outbound malang - http://trainingoutboundmalang.com/executive-outbound-malang/

 

S sebelumnya mengajarkan kepada si operator untuk berani meminta maaf dan berani bertanggung jawab atas kesalahan yang telah diperbuatnya secara jantan. Dia harus menghadapi permasalahan ini.

 

Selanjutnya si operator menemui sang pelanggan. Ketika bertemu dia langsung menjelaskan bahwa dialah yang bermasalah telah membocorkan rahasia tersebut secara tidak sengaja. Sang pelanggan langsung menampar wajah si operator.

 

Namun si operator tetap diam dan terus menunduk (sesuai anjuran S). lantas si operator mengatakan:

“Saya minta maaf atas kesalahan saya. Saya sekarang sudah diberhentikan dari perusahaan tempat saya bekerja di mana saya mencari nafkah untuk anak dan istri saya.”

 

 

Sang pelanggan tersebut langsung melampiaskan kemarahannya dengan kata-kata kasarnya. Setelah berlangsung lebih kurang satu jam, sang pelanggan tampak merasa puas setelah menlampiaskan uneg-unegnya, si operator tetap diam seribu bahasa, sesuai nasehat S sebelumnya.

 

 

Setelah sang pelanggan diam dan mulai rda amarahnya, si operator berkata denganlirih, “Pak, sekarang saya sudah minta maaf dan mengakui semua kesalahan saya.

 

 

Saya pun sudah kehilangan pekerjaan sesuai dengan permintaan Bapak. Namun saya amat membutuhkan pekerjaan itu untuk menghidupi keluarga saya…Maafkanlah saya. Mohon dengan segala hormat kiranya Bapak bersedia menandatangani surat yang saya bawa ini, bahwa saya telah Bapak maafkan.” Sang pelanggan diam sejenak, menatap si operator yang kemudian berkata: “Sini saya tanda tangani!”

Training outbound Malang

 

Setelah kejadian itu, keesokan harinya si operator langsung melapor kepada S sambil memperlihatkan surat yang sudah ditandatangani secara kasar oleh sang pelanggan. Operator tersebut langsung diterima kembali bekerja, sesuai janji S, sang General Manager.

 

Dalam hal ini S telah menyelamatkan tiga pihak; perusahaan tidak jadi ditutup. Si operator bekerja kembali. Dan pelanggan puas karena telah diperhatikan dengan serius. Suatu pandangan keputusan yang bijaksana, yang berhasil mencakup semua sisi.

 

 

Ia tahu bahwa sebenarnya manusia suka memaafkan apabila orang sudah mengakui kesalahannya. Dan ia pun tahu bahwa pelanggan itu membutuhkan perhatian, penghormatan, dan sebuah penghargaan. Keputusan yang diambil S sangat tepat, operator yang bersalah itu harus berani bertanggung jawab.

 

 

Ia pun harus berani meminta maaf. Perusahaan harus tetap diselamatkan karena menyangkut ratusan nasib karyawan, dan masa depan operator itu tetap diperhatikan.

 

Inilah contoh prinsip berpikir 99 Thinking Hats dengan mengingat sifat-sifat Allah (Asmaul Husna), atau bisa saya sebut bersikap dengan prinsip esa, dalam satu kesatuan pikiran dan tindakan. Thawaf Suara Hati.

 

 

Seorang karyawan teladan di suatu perusahaan meninggal dunia. ‘Karyawan Teladan’, sebuah julukan yang menjadi idaman setiap pegawai. Menjadi terhormat di mata atasan, di mata perusahaan, di mata masyarakat di mata keluarga.

 

 

Ia mengorbankan banyak hal untuk mendapatkan julukan tersebut ketika ia sakit, ia mencoba menyembunyikan penyakitnya, agar tidak terlihat oleh atasan dan teman kerjanya, ia bertahan, hingga maut menjemput dirinya. Ia tidak pernah melaporkan kondisi sebenarnya.

 

 

Ia memandang julukan Karyawan Teladan dari satu sisi saja, yaitu kehormatan di mata perusahaan. Tidak memandang sisi lainnya, kesehatan badannya, dan bahkan keselamatan dirinya. Ia tidak mencari kehormatan di mata Allah yang Maha Adil dan Bijaksana.

 

 

Allah selalu mempertimbangkan semua aspek dari segala sudut pandang, agar menghasilkan keputusan yang Esa (terintegrasi). Sang karyawan yang malang itu telah menjadi korban “berhala kecilnya”. La Ilaaha Ilallaah.

 

 

“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikma dan peringatan yang baik. Dan bantalah mereka dengan (bantahan) yang lebih baik. Sungguh, Tuhanmu, Ia-lah yang lebih mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya. Dan Ia-lah yang lebih mengetahui orang yang mendapat bimbingan.”

– Q.S. 16 Surat An Nahl (Lebah) Ayat 125 –